bismillah

bismillah

Jumat, 04 Januari 2013

Kekhalifahan Abu Bakar Shiddiq RA

 - Masa Kekhalifahan Abu Bakar Shiddiq RA dari 11 Rabiul Awal 11 H sampai 11 Jumadil Akhir 13 H (2 tahun, 3 tahun dan 10 hari)
             Ketika Rasulullah saw wafat, para sahabat berselisih pandangan. Sebagian sahabat mengatakan bahwa Rasulullah saw telah wafat dan sebagian yang lain mengatakan bahwa Rasulullah saw tidak meninggal. Ketika berita kematian Rasulullah saw sampai ke Abu Bakar Shiddiq RA, beliau mendatangi rumah Rasulullah saw dan membuka penutup wajah lalu menciumnya dan telah ternyata Rasulullah saw telah wafat. Kemudian beliau keluar dan menemui para sahabat lalu berkata,
       “Barang siapa yang menyembah Muhammad, ketahuilah bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad saw  telah wafat. Barang siapa yang menyembah Allah Taala, ketahuilah bahwa Allah Hidup, tidak wafat. Allah berfirman,
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ
“Dan Tidaklah Muhammad itu, melainkan seorang Rasul. Telah wafat sebelum ini para Rasul. Apakah jika Rasul wafat atau terbunuh, kalian akan berpaling dari ajarannya?”
         Abu Bakar membacakan ayat ini kepada para sahabat, termasuk kepada Umar bin Khathab RA Saat itu seakan-akan mereka baru pertama kali mendengar ayat tersebut. Setelah mendengar ayat ini, hati mereka menjadi tenang dan hilanglah segala kegundahan dan keraguan. Kemudian kaum muslimin berkumpul di Saqifah Bani Sa’adah. Di sana mereka bermusyawarah perihal pengganti Rasulullah saw sebagai pemimpin tertinggi kaum muslimin.
      Terjadi perbedaan pendapat di kalangan umat Islam, antara kaum sahabat Anshar dan sahabat Muhajirin. Masing-masing mengunggulkan kandidat-kandidat kaumnya untuk tampil sebagai khalifah. Pemuka Anshar, Basyir bin Saad r.a, menentramkan kaumnya dengan mengingatkan bahwa kaum Anshar membela Islam semata-mata untuk mencari ridha Allah Taala serta sebagai bentuk ketaatan pada Rasulullah saw hingga tidak pada tempatnya untuk berebut kekuasaan dengan Muhajirin. Taushiyah yang disampaikan dengan sangat bijaksana ini akhirnya mampu mendinginkan hati sahabat Anshar.
           Dari sahabat Muhajirin, Abu Bakar RA mengusulkan untuk mengangkat Umar bin Khathab RA dan Abu Ubaidah bin Jarrah r.a untuk menjadi khalifah pengganti Rasulullah saw. Namun keduanya langsung menolak, bahkan Umar bin Khathab langsung memegang tangan Abu Bakar r.a dan membaiatnya menjadi khalifah diikuti oleh Abu Ubaidah r.a, Basyir bin Saad r.a, dan para sahabat lainnya.
        Abu Bakar Shiddiq RA adalah salah seorang sahabat yang pertama masuk Islam. Beliau giat melakukan dakwah meski di bawah tekanan, dan beliaulah sahabat Rasul saw yang secara eksplisit namanya diabadikan dalam Al-Quran. (At-Taubah:40)
             Selain itu track record beliau sebagai orang yang ‘bersih’, berani, tegas, dan memiliki keberpihakan pada masyarakat kecil telah diakui oleh para konstituennya tersebut. Selain itu sifat rendah hati Abu Bakar Ash-Shiddiq RA tidak luntur meski dia terpilih menjadi khalifah secara aklamasi.
Tidak ada seorang pun yang menolaknya, termasuk Ali bin Abi Thalib (sebagian orang menyangka bahwa ia telat berbaiat kepada Abu Bakar Shiddiq r.a).
          Ibnu Katsir berkata, “Baiat Ali bin Abi Thalib kepada Abu Bakar Shiddiq RA terjadi pada hari pertama atau hari kedua pengangkatannya. Sesungguhnya Ali bin Abi Thalib tidak pernah berselisih paham dengan Abu Bakar Shiddiq RA dan tidak ada satu shalat pun yang dikerjakan Ali tidak berjamaah mengikuti Abu Bakar Shiddiq RA Ali bin Abi Thalib r.a juga ikut Abu Bakar Shiddiq RA ke Dzul Qishah untuk memerangi penduduk yang murtad dari agama Islam. Akan tetapi terjadi sesuatu pada Fathimah RA yang mencela Abu Bakar Shiddiq RA karena dia menyangka bahwa dia akan mendapatkan warisan dari Rasulullah saw sebagai anak. Fathimah RA sendiri belum mengetahui hadits Rasulullah saw kepada Abu Bakar Shiddiq RA dan para sahabat yang menyebutkan,
إِنَّا مَعْشَرَ الأَنْبِيَاءِ لا نُورَثُ مَا تَرَكْنَا صَدَقَةٌ
“Sesungguhnya kami, para nabi tidak meninggalkan warisan dan apa-apa yang kami tinggalkan adalah sedekah buat kaum muslimin.”
           Dengan dasar hadits tersebut, Abu Bakar Shiddiq RA tidak memberikan warisan kepada Fathimah RA dan istri-istri Rasul. Ketika Fathimah RA meminta Ali bin Abi Thalib RA untuk menanyakan tanah yang di Khaibar, Abu Bakar Shiddiq RA tidak menjawabnya karena dalam pandangan Abu Bakar Shiddiq RA dialah yang mengurus semua peninggalan Rasulullah saw. Peristiwa itu menambah kecewa dan marahnya Fathimah RA hingga ia tidak mau berbicara dengan Abu Bakar Shiddiq RA sampai Fathimah meninggal, enam bulan sejak wafatnya Rasulullah saw. Kondisi inilah yang membuat Ali merasa perlu memperbaharui baiatnya kepada Abu Bakar agar ketegangan antara Fathimah RA dan Abu Bakar Shiddiq RA tidak menimbulkan fitnah bagi kaum muslimin.
           Perselisihan antara Fathimah RA dan Abu Bakar Shiddiq RA meninggalkan celah menganga di internal kaum muslimin dengan kemunculan kelompok Ar-Rafidhah.
Pidato Politik Pertama Abu Bakar Shidddiq r.a:
Amma ba’du…
Wahai para sahabat, aku telah diserahi tugas sebagai khalifah, padahal aku bukanlah orang terbaik di antara kalian. Karena itu, jika aku melakukan kebaikan, maka bantulah aku, jika aku berbuat salah, maka ingatkanlah aku.
Jujur itu amanah, sedang dusta itu khianat.
Orang lemah di antara kalian adalah orang kuat di sisiku hingga aku berikan haknya insya Allah, dan orang kuat di antara kalian adalah orang lemah di sisiku hingga aku mengambil haknya darinya insya Allah.
Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah, melainkan Allah akan menjadikan mereka hina dan dihinakan, tidaklah perbuatan kotor menyebar di suatu kaum, melainkan Allah akan menyebarkan malapetaka di tengah-tengah mereka. Untuk itu, taatilah aku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya, maka kalian tidak wajib mentaatiku. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kalian.”
Itulah momen-momen awal kekhalifahan Abu Bakar Shiddiq RA Wallahu a’lam.

Minggu, 23 Desember 2012

Unsur instrinsik dan ekstrinsik Novel IMPIAN TUK KEMBALI

Jenis Novel : Novel Indonesia
Unsur Instrinsik :
A.  Tema
Perjuangan Hidup
B.  Tokoh atau Penokohan
Ø Adi :
·      Pintar, ditunjukkan oleh
 “Dengan Izin Allah, Adi pun menjadi pintar, bahkan lebih pintar dari  teman-teman sebayanya.” (halaman 10)
·      Jujur, ditunjukkan oleh :
“U… u… u… uang.” Kata Adi terbata-bata, ia mencoba jujur walaupun tahu dia akan merampasnya.” (halaman 24)
·      Tulus, ditunjukkan oleh :
“Ketulusan sebagai perwujudan karakternya tergambar dari lembutnya tangan mengelap tiap helai daun pisang tanpa terlewat satu sisi pun.” (halaman 47)
·      Pekerja keras, ditunjukkan oleh :
“Langkahnya pelan namun pasti tujuan. Niatnya ialah membantu Mbok Yem menjual daun pisang ke pasar.” (halaman 49)
·      Semanagat, dirtunjukkan oleh:
“Tiga minggu ia lalui dengan penuh semangat.” (halaman 69)

Sabtu, 01 Desember 2012

Jalan Menuju Hidayah

           Menunut ilmu adalah suatu kewajiban bagi setiap individu. Ini bertitik tolak dari pada kepentingan ilmu dalam hidup manusia itu sendiri. Dalam proses seorang hamba mendapatkan petunjuk atau hidayah mempunyai kaitan erat dengan ilmu. Oleh sebab itu hidayah tidak akan diperoleh begitu saja melainkan ia perlu diusahakan dengan mencari, belajar dan mengamalkannya. Ingat! Hidayah Allah hanya akan diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

           Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW mengetahui Islam sebagai pedoman hidup dan bukan agama yang menyesatkan manusia, tetapi hidayah Allah masih belum meresap ke dalam hatinya untuk memeluk agama Islam. Allah SWT berfirman :

          "Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunujuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk." (QS; Al-Qashash:56)

         

Entri Populer